Artikel

Masih Ragu untuk Lanjut S-2? Yuk Baca Ulasan Berikut!

  17 Oct 2017   408

Akademik


Menjadi sarjana kini bukan hal asing lagi di telinga. Kesempatan untuk menempuh bangku kuliah kini ada di tangan siapa saja yang memiliki keingingan dan kemampuan. Menjadi sarjana bukan lagi sesuatu yang spesial karena itulah banyak orang yang memilih untuk melanjutkan S-2.

Mungkin kamu masih ragu untuk mengambil gelar S-2 sekarang juga. Pertanyaan terbesar yang ada di kepalamu, “Bergunakah jika aku melanjutkan S-2?” Berbagai pertanyaan dan sedikit perasaan malas membuatmu urung melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebenarnya kamu tak perlu terus meragu. Sebagai bahan pertimbangan menjawab pertanyaanmu, berikut ini adalah alasan kenapa kamu harus melanjutkan S-2.

  1. Tuntutan zaman sudah berubah. Jika dulu gelar sarjana masih bisa dibilang ‘wah’, sekarang hal yang sama tak lagi istimewa

Kondisi zaman sekarang sudah jauh berbeda dari kondisi ketika ayah-ibumu berkuliah. Zaman dulu, lulusan paling cepat sekalipun mesti menempuh pendidikan kurang-lebih sekitar enam tahun. Bayangkan saja, mereka membuat skripsi masih dengan mesin ketik; buku referensi pun tak bisa dicari lewat Google. Berbeda dengan sekarang yang sudah serba digital. Mau revisi skripsi, kamu tinggal buka file di komputer dan mengutak-atiknya. Mau mencari referensi, banyak juga jurnal atau buku digital yang bisa diunduh.

Makanya nggak heran kalau saat ini lulusan sarjana masih muda-muda dan jumlahnya banyak. Kalau dulu sarjana menjadi sesuatu yang ‘wah’, sekarang sudah biasa saja. Jika ingin kualifikasimu di atas rata-rata, tentu kamu perlu melanjutkan S-2.

  1. Usia yang masih sangat muda membuatmu lebih mudah fokus pada tuntutan kuliah

Karena usiamu masih sangat muda, tanggungan hidupmu tentu jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang sudah berkeluarga. Kamu tak perlu memikirkan biaya susu formula anak, bagaimana jika dia jatuh sakit, atau ke mana dia bisa dititipkan jika kamu harus menghadiri kelas. Yang perlu kamu perhatikan hanyalah materi kuliah, isi presentasi, dan tugas-tugas dari dosen. Dengan begini kamu bisa lebih fokus pada beban akademikmu, dan kuliahmu pun bisa berjalan dengan lebih lancar

  1. Ilmu yang lebih dalam dan karakter yang lebih matang turut menjadikan lulusan S-2 kandidat yang terbaik di dunia kerja

Mungkin memang benar bahwa di banyak perusahaan, fresh graduate S-1 dan S-2 akan memulai karier dengan gaji yang sama besarnya. Namun, ini tidak menafikan bahwa lulusan S-2 punya ilmu yang lebih dalam dan karakter yang lebih dewasa dibandingkan lulusan S-1 pada umumnya. Ilmu dan karakter yang lebih matang ini terbentuk bukan hanya dari kelas-kelasnya, namun juga kegiatan ekstrakulikuler dan interaksi yang lebih akrab antara mahasiswa dan dosen. Karakter yang lebih terasah ini menjadikan para lulusan S-2 karyawan-karyawan terbaik di bidangnya, sehingga jalan mereka untuk naik pangkat di kantor bisa lebih mulus. Jadi, masih ragu untuk melanjutkan pendidikanmu?

  1. Jika saat S1 kamu merasa salah jurusan, maka S2 bisa memperbaiki kesalahanmu

Banyak di antara kita yang hanya mengikuti saran dari orangtua ketika memilih jurusan untuk S-1 dulu. Mungkin karena kita belum tahu minat dan bakat kita yang sebenarnya, sekadar ingin menyenangkan orangtua, atau ingin terlihat keren saja. Ternyata kamu sama sekali tidak memiliki minat di jurusan itu dan menyelesaikannya dengan seadanya. Nah, di jenjang S-2, kamu punya kesempatan untuk ‘mengubah jalan hidupmu’ dengan mengambil jurusan yang memang setulusnya kamu inginkan. Dan jangan kamu anggap jurusan S-2 hanya untuk ilmu-ilmu eksak dan sosial. Ada juga lho pendidikan Master untuk jurusan-jurusan kesenian.

  1. “Tapi aku ‘kan sudah keterima kerja, sayang kalau harus keluar buat kuliah lagi.”

Keraguan yang sering muncul adalah ketika kamu sudah bekerja dan merasa ragu untuk meninggalkan pekerjaanmu untuk kuliah. Jangan khawatir, karena banyak perusahaan dan manajer yang justru senang bila pegawainya sekolah lagi. Bahkan ada di antara mereka yang bersedia memberikan masa cuti panjang (1-2 tahun) untuk pegawai potensial yang ingin melanjutkan kuliah. Coba konsultasikan pada atasanmu mengenai hal ini.

Kalau ternyata beliau tidak setuju, banyak juga kok universitas yang membuka program S-2 untuk profesional. Kuliah biasanya dilakukan di malam hari atau Sabtu-Minggu, sehingga pekerjaanmu di kantor tetap bisa berjalan lancar seperti biasanya.

  1. “Tapi ‘kan ngurusnya ribet. Mesti tes ini-itu, legalisir ijazah, belum lagi kalau mau beasiswa harus minta surat rekomendasi. Males ah!”

Tidak ada kemewahan yang diperoleh tanpa perjuangan. Pastinya banyak urusan administrasi yang harus kamu selesaikan untuk mendaftar S-2, apalagi kalau mau memperoleh beasiswa luar negeri. Serangkaian tes juga harus kamu jalani, dari Tes Potensi Akademik, TOEFL, sampai mengajukan proposal untuk tesis. Jangan dulu mengeluh, setiap pilihan pasti membutuhkan usaha. Jalani saja dulu, dan bayangkan buahnya jika kamu berhasil.

  1. “Duh, lulus S-1 aja nilainya pas-pasan. Gimana nanti pas S-2?”

S-2 pasti lebih menantang dari S-1, sehingga sah-sah saja jika kamu merasa tidak mampu menjalaninya. Pikirmu, kalau S-1 saja dulu kamu harus terseok-seok, apalagi S-2? Tapi kondisi S-1 dan S-2 tentu jauh berbeda. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, saat S1 mungkin ada mata kuliah yang tidak kamu sukai sehingga membuat kamu malas. Mungkin kamu kurang suka dengan jurusan yang kamu pilih sehingga kamu asal-asalan menyelesaikannya. Mungkin kamu terlalu aktif di kegiatan mahasiswa sehingga kelulusanmu harus tertunda. Sementara di S-2, kamu benar-benar datang ke kampus untuk kuliah. Itupun kamu bisa mengambil jurusan yang memang kamu suka.

  1. Banyak beasiswa yang terbuka lebar untukmu

Di usia yang cukup muda ini, kamu juga memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Tak hanya untuk S-2 di dalam negeri, namun juga luar negeri. Pemerintah Indonesia saja punya beasiswa LPDP, DIKTI, dan President Scholarship. Belum lagi pemerintah Uni Eropa (Erasmus Mundus), Inggris (Chevening), Amerika (Fulbright), Australia (AUSAID), Belanda (NESO), dan Belgia (VLIR-UOS). Ada juga lho beasiswa-beasiswa lain ke luar negeri yang jarang diketahui meskipun bergengsi.

 

Sumber : http://www.hipwee.com